Ini untuk dokumentasi pribadi merk accu yang aslinya toyota avanza 2014.
SCIENCE is about KNOWING, ENGINEERING is about DOING
Selasa, 26 Maret 2019
Minggu, 10 Maret 2019
Baru Paham Sekarang Bahwa Kiamat Sudah Dekat sejak diutusnya Nabi Muhammad. Dekatnya Seperti Jarak 2 Jari
Waktu kecil kita pernah dengar bahwa kiamat itu sudah dekat, sedekat jarak dua jari telunjuk dan jari tengah. Hal itu baru kita ngeh karena memang, sejak nabi Adam AS turun di bumi sampai saat sekarang sudah lama banget.
Dari pergantian generasi dan utusan nabi atatu rasul silih berganti. Dan Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang menyerpurnakan ajaran syariat sebelumnya karena memang dunia sudah mau berakhir, ini adalah perjalan di saat saat jaman akhir. Lalu sudah cukupkah bekal kita?
Uang Yang Tidak Tergerus Inflasi-DINAR-DINARAN-EMAS
Semenjak Anda bekerja mulai terbayang untuk mengumpulkan hasil pekerjaan yang berupa uang dalam bentuk tabungan. Dan tahukah kamu bahwa usaha menabung, uang yang terkumpul memang makin lama makin banyak karena anda tabung kumpulkan sedikit demi sedikit dalam kurun waktu tahunan. Tetapi jumlah uang yang banyak tersebut nilainya akan turun terkena inflasi.
Contoh konkrit
Anda menabung selama 10 th terkumpul misalnya 20 Juta dan inflasi uang 3%/tahun. Maka 20 juta uang anda akan senilai cuma 14 juta. Itulah inflasi.
Solusinya adalah tabunglah uang anda ke uang dinar (emas) atau emas batangan kecil. Hikmahnya uang anda dalam tidak akan tergerus inflasi dan ikut sunnah rosul.
Seharusnya uang dicetak berdasarkan cadangan emas negara. Bukan asal cetak uang tanpa ada agunan emas fisiknya.
Ini ternyata sudah sejak sebelum Indonesia merdeka, sampai merdeka dengan tekanan elite global terus menekan kita bangsa Indonesia juga bangsa lain di dunia.
Kalau anda buka youtube SIHIR UANG kertas baru ngeh.
Saatnya kita ikuti hadits Nabi sbb:
Nubuwat Rasulullah Muhammad :
ﻳﺄَﰐْ ﻋَﻠﻰ ﺍﻟﻨَﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥ ﻣَﻦ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻣَﻌَﻪُ ﺍَﺑﻴَﺾُ ٯَ ﻻَ ﺍَﺻْﻔَﺮﺭُ ﻟَﻢْ ﻳَﺘَﻬِﻦ ِﺑﺎﻟْﻌَﻴْﺶِ “
Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada saat itu orang yang tidak memiliki putih (perak) dan kuning (emas), dia akan kesusahan dalam kehidupan” (H.R. Imam Thabrani)
ﻳَﺄِﰐْﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥﻻَﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻓِﻴْﻪِ ﺍِﻻَﺍﻟﺪِﻳْﻨَﺎﺭُ ﻭَﺍﻟﺪِﺭﻫَﻢُ “
Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (uang emas) dan dirham (uang perak)” (H.R. Imam Ahmad)
ﺍِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰْ ﺍﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَﻣَﺎﻥِ ﻻَﺑُﺪَ ﻟِﻠﻨَﺎﺱِ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪَﺭَﺍﻫِﻴْﻢِ ﻭَﺍﻟﺪَﻧَﺎﻧِﻴﺮِ ﻳﻘِﻴْﻢُ ﺍﻟﺮَﺟُﻞُ ﺑِﻬَﺎ ﺩِﻳْﻨَﻪ ﻭﺩُﻧْﻴَﺎﻩُ “
Apabila di akhir zaman, manusia di kalangan mereka itu harus menggunakan dirham-dirham dan dinar-dinar sehingga dengan kedua mata uang itu seorang laki-laki menegakkan agama dan dunianya”. (H.R. Imam Al-Thabrani).
Ini ternyata sudah sejak sebelum Indonesia merdeka, sampai merdeka dengan tekanan elite global terus menekan kita bangsa Indonesia juga bangsa lain di dunia.
Kalau anda buka youtube SIHIR UANG kertas baru ngeh.
Saatnya kita ikuti hadits Nabi sbb:
Nubuwat Rasulullah Muhammad :
ﻳﺄَﰐْ ﻋَﻠﻰ ﺍﻟﻨَﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥ ﻣَﻦ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻣَﻌَﻪُ ﺍَﺑﻴَﺾُ ٯَ ﻻَ ﺍَﺻْﻔَﺮﺭُ ﻟَﻢْ ﻳَﺘَﻬِﻦ ِﺑﺎﻟْﻌَﻴْﺶِ “
Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada saat itu orang yang tidak memiliki putih (perak) dan kuning (emas), dia akan kesusahan dalam kehidupan” (H.R. Imam Thabrani)
ﻳَﺄِﰐْﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥﻻَﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻓِﻴْﻪِ ﺍِﻻَﺍﻟﺪِﻳْﻨَﺎﺭُ ﻭَﺍﻟﺪِﺭﻫَﻢُ “
Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (uang emas) dan dirham (uang perak)” (H.R. Imam Ahmad)
ﺍِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰْ ﺍﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَﻣَﺎﻥِ ﻻَﺑُﺪَ ﻟِﻠﻨَﺎﺱِ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪَﺭَﺍﻫِﻴْﻢِ ﻭَﺍﻟﺪَﻧَﺎﻧِﻴﺮِ ﻳﻘِﻴْﻢُ ﺍﻟﺮَﺟُﻞُ ﺑِﻬَﺎ ﺩِﻳْﻨَﻪ ﻭﺩُﻧْﻴَﺎﻩُ “
Apabila di akhir zaman, manusia di kalangan mereka itu harus menggunakan dirham-dirham dan dinar-dinar sehingga dengan kedua mata uang itu seorang laki-laki menegakkan agama dan dunianya”. (H.R. Imam Al-Thabrani).
Di ERA MODERN jual BELI EMAS AKAN SANGAT DINAMIS, terkait HUKUM nya kita telah merujuk dari tulisannya Pak Muhaimin Iqbal.
FIKIH JUAL BELI EMAS DARI WEBNYA PAK MUHAININ IQBAL
REPOSTING DARI WEB BELIAU UNTUK BACKUP AGAR TIDAK HILANG
JUDUL:
Dinar dan Teknologi, Bagaimana Status Hukumnya…?
Tulisan ini untuk menjawab beberapa pertanyaan pembaca sekaligus, yang intinya ada yang menanyakan legalitas produk-produk Dinar berbasis teknologi seperti M-Dinar yang belum lama ini kami perkenalkan. Ada dua aspek legalitas yang ingin saya jelaskan; pertama legalitas dari aspek hukum positif negara (Indonesia dan juga negara-negara lain dimana M-Dinar digunakan) dan kedua adalah aspek legalitas dari sisi syariah.
Tulisan ini untuk menjawab beberapa pertanyaan pembaca sekaligus, yang intinya ada yang menanyakan legalitas produk-produk Dinar berbasis teknologi seperti M-Dinar yang belum lama ini kami perkenalkan. Ada dua aspek legalitas yang ingin saya jelaskan; pertama legalitas dari aspek hukum positif negara (Indonesia dan juga negara-negara lain dimana M-Dinar digunakan) dan kedua adalah aspek legalitas dari sisi syariah.
Dari sisi hukum positif negara, harus diakui bahwa kecepatan perkembangan teknologi mendahuli kecepatan perkembangan hukum positif buatan manusia. Sangat bisa jadi memang belum ada hukum yang pas yang mengatur transaksi pembayaran global yang menggunakan system e-payment, paypal, e-gold, e-dinar, Goldmoney dlsb.
Jadi biarlah hukum positif ini dipersiapkn oleh pihak yang terkait pada waktunya di masing-masing Negara. Namun perkembangan aplikasi teknologi pembayaran yang sudah sangat canggih tidak perlu menunggu kesiapan hukumnya – bila ini yang ditunggu, maka negara yang perkembangan system hukumnya lambat akan juga sangat terbelakang dalam aplikasi teknologi-nya.
Berbeda denan system hukum buatan manusia yang selalu terlambat mengantisisipasi perkembangan zaman; hukum Allah sebaliknya – sangat antisipatif dan selalu fit untuk perkembangan teknologi yang secanggih apapun. Inilah makna Islam sebagai agama akhir zaman itu; kembali ke Islam tidak identik dengan kembali ke system yang kuno.
Sebaliknya solusi Islam bisa sangat modern – tanpa harus meninggalkan aturan syariah sedikitpun.
Ambil contoh hadits berikut : Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai - dari tangan ke tangan. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai - dari tangan ke tangan.”
Ulama-pun yang tidak memiliki latar belakang dunia perniagaan bisa memberi fatwa yang kurang pas karena keliru menafsirkan hadits tersebut diatas. Pangkalnya adalah pengertian ‘tunai - dari tangan ke tangan’ yang disebut di hadits tersebut diatas.
Bila pengertian dari tangan ke tangan diartikan secara harfiah – fisik tangan ke tangan; bisa Anda bayangkan sebagian besar yang kita makan dan kita beli selama ini bisa jatuh ke Riba. Berikut beberapa contoh-contohnya:
· Gandum yang merupakan salah satu komoditi yang disebut di hadits tersebut diatas, tidak pernah dibeli pedagang Indonesia dari tangan ketangan secara fisik.
· Uang kertas yang di qiyas-kan dengan emas/perak – makanya terkena hukum riba; dalam skala besar sangat jarang berpindah dari tangan ke tangan secara fisik. Perpindahan uang lebih banyak dari account to account.
· Siapapun membeli emas untuk Dinar di Indonesia dalam jumlah besar, tidak mungkin lagi melakukannya dari tangan ke tangan – karena sangat berbahaya (bila membawa uang tunai milyaran Rupiah) – dan Logam Mulia - pun juga tidak mau menerima pembayaran dengan uang tunai fisik dari tangan ke tangan bila lebih dari Rp 50 juta.
· Anda tidak bisa melakukan pembayaran via ATM, M-Banking, Internet Banking dst. Karena tidak secara ‘fisik dari tangan ketangan’ – padahal yang Anda pertukarkan uang kertas yang diqiyaskan ke emas/perak tersebut diatas.
Dan banyak sekali contoh transaksi yang di jaman sekarang sudah tidak praktis lagi kalau dilakukan secara ‘tunai dari tangan ke tangan’ kalau dari ‘tangan ke tangannya’ diartikan harus secara fisik.
Lantas apakah Hadits ini salah atau kuno sehingga tidak bisa diterapkan ?. Tidak juga, Haditsnya tetap shahih dan benar dan valid sampai akhir zaman.
Atau apakah kita tidak bisa menggunakan teknologi tinggi bila ingin mempraktekkan hadits tersebut dijaman ini ?. Tidak juga, segala teknologi yang memudahkan tentu bisa kita pakai – tanpa harus kita tinggalkan Hadits tersebut diatas.
Yang kita butuhkan hanya ulama yang mengerti benar realita dunia usaha sehingga dapat memberikan solusi yang tetap syar’i namun aplicable sesuai zamannya. Dengan ulama yang paham inilah umat akan bisa maju dan berlomba dalam teknologi beserta praktek bisnis modern – bersaing dengan umat agama lain yang hidup se-zaman dengannya.
Untuk ini kita bisa belajar dari Imam Abu Hanifah (699 M- 767 M), beliau adalah seorang Tabi’in yaitu generasi setelah Sahabat Nabi SAW. Beliau pernah bertemu dengan salah satu sahabat Nabi SAW yaitu antara lain Anas bin Malik. Beliau juga seorang pedagang sehingga paham betul praktek-praktek perdagangan sekligus paham syariatnya.
Dalam mengartikan ‘penyerahan barang secara tunai dari tangan ke tangan’ misalnya, beliau memberikan tafsir yang sangat aplicable – bahkan untuk era cyber seperti sekarang ini sekalipun.
Imam Abu Hanifah menafsirkan bahwa barang sudah berarti diterima oleh pembeli (di tangan pembeli) dari penjual bila penjual “ memberikan akses penuh kepada pembeli disertai ijin sehingga pembeli dapat memanfaatkan barang yang dibelinya tersebut”.
Penafsiran Imam Abu Hanifah inipun kemudian diperluas aplikasinya oleh ulama kontemporer yang karyanya menjadi rujukan prakstisi bisnis syariah di seluruih dunia yaitu Dr. Wahbah Al-Zuhayli. Dalam mengartikan jual beli ‘tunai dari tangan ketangan’ dalam satu majlis bay’ (satu pertemuan/sesi perdagangan), Al – Zuhayli menyatakan bahwa majlis bay’ tidak berarti harus satu rauangan/tempat fisik dimana penjual dan pembeli bertemu secara fisik. Mereka (penjual dan pembeli) bisa saja terpisah secara fisik – asal keduanya bisa saling berkomunikasi – maka mereka masih dapat dikatakan dalam satu majlis bay’.
Dengan penafsiran oleh ulama-ulama yang sangat paham dunia usaha sekaligus sangat paham syariah inilah, Islam bisa dapat benar-benar menjadi solusi tanpa ribet, tanpa kehilangan kesyariaahan-nya. Situasi berikut menjadi sepenuhnya sesuai syariah dengan penafsiran yang tepat guna tersebut :
1). Jual beli gandum dalam gudang yang sangat besar sekalipun, dapat cukup dilakukan serah terimanya dengan penyerahan akses terhadap pemanfaatan gandum tersebut ke pembeli. Akses ini bisa berupa kunci gudang, bisa user id dan password untuk pemindahan barang dlsb.
2). Perpindahan uang dari account to account, dari satu mata uang ke mata uang lainnya lewat transfer M-banking, Internet banking menjadi punya dasar yang syar’i.
3). Perpindahan account M-Dinar dari GeraiDinar ke Account pelanggan M-Dinar juga memiliki dasar yang sama. Begitu pelanggan M-Dinar menerima user id dan password atau bertambah saldo-nya di M-Dinar Account-nya – pembeli tersebut memiliki akses penuh dan dapat memanfaatkan Dinar yang ada di accountnya; artinya Dinar sudah dapat diartikan di delivered.
Kalau ulama jaman tabiin saja sudah bisa merumuskan penafsiran yang aplicable sampai sekarang, maka ulama-ulama besar zaman ini harus bisa lebih akurat lagi merespon perkembangan perdagangan Islami nan modern – seperti yang dilakukan oleh Dr. Wahbah Al-Zuhayli tersebut; tidak ketinggalan teknologi dan tidak pula meninggalkan hukum syariah.
Setelah uraian yang panjang ini, sangat mungkin masih ada rasa penasaran bagi sebagian pembaca situs ini yang ingin mendalami lebih jauh tentang legal aspek dan perkembangan zaman/tekonologi ini. Ada dua buku yang saya sarankan di baca oleh peminat, pertama adalah Kitabnya Dr. Wahbah Al-Zuhayli yang berjudul Al-Fiqh Al-Islmai wa- Adillatuh yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Financial Transactions in Islamic Jurisprudence. ( Penerbit Dar Al-Fikr, Damascus , 2003)
Kitab ini cukup berat – namun sangat detil dalam mengkaji aqad-aqad finansial. Hampir seluruh produk GeraiDinar.Com baik itu produk i-Qirad, M-Dinar dan produk titipan – banyak menjadikan kitab tersebut sebagai rujukannya.
Buku kedua yang sudah aplikatif dan langsung terkait dengan e- business adalah buku yang ditulis oleh Hurriyah El-Islamy dengan judul “E-Business, An Islamic Perspective”. (Penerbit A. S. Noordeen, Kuala Lumpur 2002).
Semoga Allah selalau menuntun kita untuk semakin dekat ke jalanNya. Amin.
JIKA INGIN NAMBUNG EMAS BISA JUAL BISA BELI DENGAN MUDAH LEWAT INI https://dinaran-gold.com/web/ref/ZDU7VTHQ2W5N
Selasa, 09 Oktober 2018
Lingkungan Menciptakan Aroma dan Kegiatan di Dalamnya
Itu fakta dan terlihat sendiri, saat terbang menuju tujuan ke Aceh. Penerbangan dengan xxxx air dua tahap. Tahap 1 dari bandara Soekarno Hatta Cengkareng JKT ke bandara KualaNamu Medan, kalau kita amati awak kabin para pramugari terlihat Pakaiannya rok panjang sampai kaki tetapi belahan rok membelah dari kaki sampai paha. Beda pakaiannya saat dari bandara Kuala namu ke bandara Sultan Iskanda Muda Aceh, para pramugari semuanya berjilbab dan rok yang terbelah diselamatkan dengan memakai stocking/celana panjang sampai kaki bawah.
Untuk acara tugas conference ini.
Untuk acara tugas conference ini.
Minggu, 29 Juli 2018
Apa itu qodho dan qodar, apa bedanya
Qodho dalam bahasa umum adalah default, Qodar adalah Custom.
Atau Qodho dalam bahasa umum adalah hukum alam (sunnatullah), Qodar adalah yang dapat kita usahakan dalam domain manusia.
Atau Qodho dalam bahasa umum adalah hukum alam (sunnatullah), Qodar adalah yang dapat kita usahakan dalam domain manusia.
Contoh:
Qodho: Tempat lahir Anda di Indonesia, warna kulit, rambut kriting, oleh orang tua si A dan sebaginya itu sudah ditentukan kita tidak bisa memilih lahir di Arab, Malaysia, dsb. Kita tidak bisa memilih warna kulit putih hidung mancung, anak dari oleh Bill Gates dan semisalanya. Itu semua adalah Qodho, paket apa adanya yang kita terima dari Allah SWT, sehingga Allah tidak minta pertanggungjawaban mengapa kulit kita hitam, rambut kita keriting, dsb.
Sedangkan Qodar Allah akan minta pertanggungjawaban dari kita, karena hal tersebut adalah pilihan kita, misal: kita bisa memilih melakukan perbuatan terpuji atau terlarang. Jika kita mencuri maka Allah akan menghukum kita, jika kita berbuat baik Allah akan memberi kita pahal.
Sedangkan Qodar Allah akan minta pertanggungjawaban dari kita, karena hal tersebut adalah pilihan kita, misal: kita bisa memilih melakukan perbuatan terpuji atau terlarang. Jika kita mencuri maka Allah akan menghukum kita, jika kita berbuat baik Allah akan memberi kita pahal.
Qodar: kalau kita terlahir rambut kriting dan kita ingin yang lurus maka silahkan di rebonding biar lurus, kita diberi kewenangan untuk mengatur rambut kita yang tadinya keriting menjadi lurus. Kita anak kurang mampu dan miskin, kita masih bisa berusaha bekerja dengan keras dan cerdas sehingga akhirnya menjadi orang kaya. Kita berbuat baik itu juga kita yang menentukan, bukan orang lain. Orang lain hanya pemicu, pilihan tetap ada di kita.
Qodar/takdir inilah yang bisa kita olah sebatas kemampuan manusia, TETAP hasil AKHIR tetap tergantung kepada ALLAH.
Contoh Lain:
Qodho Api itu sifatnya panas (hukum alam/sunnatullah) nya panas bisa membakar benda lain, tetapi dalam kasus Nabi Ibrahim di bakar api, sifat api menjadi dingin karena dikehendaki oleh ALLAH (qodhar) menjadi dingin sehingga tidak membakar Nabi Ibrahim dan menjadi selamat karenanya.
Contoh Lain:
Qodho Api itu sifatnya panas (hukum alam/sunnatullah) nya panas bisa membakar benda lain, tetapi dalam kasus Nabi Ibrahim di bakar api, sifat api menjadi dingin karena dikehendaki oleh ALLAH (qodhar) menjadi dingin sehingga tidak membakar Nabi Ibrahim dan menjadi selamat karenanya.
PERLU DI PERHATIKAN
Mencuri dan kelakuan buruk bukan takdir, itu adalah pilihan kita dengan konsekuensi yang akan kita dapat jika melakukan pekerjaan tersebut. Karena kita diberi AKAL oleh sang Maha Pecipta ALLAH untuk menentukan ("custom") kelakuan/amal kita. Setelah informasi semua telah kita dapat.
Hasil ujian mendapat nilai ujian A itu harus berusaha, bukan mengandalkan takdir. Misalnya Anda sudah belajar mati-matian dan tetat dapat nilai D dan berdo'a, nah itu sudah menjadi takdir ketetapan ALLAH dan takdir itu tetap BAIK, bukan jelek. Allah tidak mendholimi mahluknya, hanya karena kita belum tahu rahasia/hikma dibalik itu semua.
Langganan:
Postingan (Atom)






